malam ini hanya mencoba lembaran lemabaran dilayar monitor yg tek bisa kusentuh tp bisa ku raba dengan mata.. sesaat detik mlm berlalu. ada lembaran yg dulu serasa hangat saat aku melihtanya
berbunyi halus namun kuat tertanam
berbunyi halus namun kuat tertanam
"VERLUST"
Wahai pujangga
pemilik angin…
Tiupkanlah jiwa-jiwa
layang pengitar jagad
Labuhkan pada satu
ranting hati yang meranggas
Kerontang dan rapuh
dimakan mata surya
Titiplah surat pada
dia,jiwa yang telah dipilihkan itu
Dan ajarkan ranting
menghargai hakikatnya
Biarkan ia makan dari
ikhlas dan minum dari kalbu
Selanjutnya jiwa
pengitar yang akan membimbing
Menuju batang-batang
kokoh penantiannya
Jadikan tumbuh dan
kembang dibimbing jiwa titipan
Agar ranting ini
menjadi satu lukisan agung
Namun rupanya nafsu
cinta menyesatkan alamnya
Ranting tumbuh dengan
jiwa
Berlarut-larut menjadi
satu tubuh yang terikat
Jiwalah air dan pemanis
dari fotosintesisnya
Lantas ketika pujangga
angin kembali bernafas…
Kejalan-jalan hembusan kemarin
Meminta satu jiwa yang
tak sengaja tersangkut pada 2 ranting
Ranting baru yang
bernama cinta telah dicipta
Tapi sekarang harus
dipatahkan karena kenyataan
Duhai pujangga angin…
Teganya kau hembuskan
jiwa kemarin
Yang sekarang tumbuh
bersama ranting hati
Duhai jiwa…
Sungguh patah ranting
kokoh yang kau tumbuhkan
Mengapa kau,jiwa
singgah pada 2 ranting hati
Duhai ranting hati…
Ikhlas yang pernah
diajarkan apa kau terapkan
Pujangga angin beku
dalam hembusannya sendiri
dan Jiwa pengitar hanya
berucap “Maaf”
Tapi Sang Ranting Hati berontak
berkata : “Duhai angin kemarin kesejukan namun kini kembali pada kegersangan
Duhai jiwa,Ranting Muda
telah kau tumbuhkan dan sekarang kau patahkan”
Lalu sang ranting hati
menerbangkan jiwanya
Darah yang mengalir
karena patahan ranting baru,mengering
Hanya menciptakan
koreng yang tak kunjung hilang
Sekalipun sekarang kau
kembali atas salahmu jiwa
Tapi maafkan
Telah kuterbangkan hati
dengan sayap rapuhnya
Terlalu luka
Terlalu sakit
Terlalu pedih
Telah mati
Keinginan untuk
mengulangnya kembali
Telah Mati
Angan menuju
cita itu
Telah Mati
dulu y seperti biasa sering melihatnya mengoreskannya dikertas. tp sekarang hanya tergores dihati dengan jejaknya