Rabu, 03 Juli 2013

Lembaran Lama

malam ini hanya mencoba lembaran lemabaran dilayar monitor yg tek bisa kusentuh tp bisa ku raba dengan mata.. sesaat detik mlm berlalu. ada lembaran yg dulu serasa hangat saat aku melihtanya

berbunyi halus namun kuat tertanam
"VERLUST"

Wahai pujangga pemilik  angin…
Tiupkanlah jiwa-jiwa layang pengitar jagad
Labuhkan pada satu ranting hati yang meranggas
Kerontang dan rapuh dimakan mata surya
Titiplah surat pada dia,jiwa yang telah dipilihkan itu
Dan ajarkan ranting menghargai hakikatnya
Biarkan ia makan dari ikhlas dan minum dari kalbu
Selanjutnya jiwa pengitar yang akan membimbing
Menuju batang-batang kokoh penantiannya
Jadikan tumbuh dan kembang dibimbing jiwa titipan
Agar ranting ini menjadi satu lukisan agung

Namun rupanya nafsu cinta menyesatkan alamnya
Ranting tumbuh dengan jiwa
Berlarut-larut menjadi satu tubuh yang terikat
Jiwalah air dan pemanis dari fotosintesisnya
Lantas ketika pujangga angin kembali bernafas…
Kejalan-jalan  hembusan kemarin
Meminta satu jiwa yang tak sengaja tersangkut pada 2 ranting
Ranting baru yang bernama cinta telah dicipta
Tapi sekarang harus dipatahkan karena kenyataan

Duhai pujangga angin…
Teganya kau hembuskan jiwa kemarin
Yang sekarang tumbuh bersama ranting hati

Duhai jiwa…
Sungguh patah ranting kokoh yang kau tumbuhkan
Mengapa kau,jiwa singgah pada 2 ranting hati

Duhai ranting hati…
Ikhlas yang pernah diajarkan apa kau terapkan

Pujangga angin beku dalam hembusannya sendiri

dan Jiwa pengitar hanya berucap “Maaf”

Tapi Sang Ranting Hati berontak berkata : “Duhai angin kemarin kesejukan namun kini kembali pada kegersangan
Duhai jiwa,Ranting Muda telah kau tumbuhkan dan sekarang kau patahkan”

Lalu sang ranting hati menerbangkan jiwanya
Darah yang mengalir karena patahan ranting baru,mengering
Hanya menciptakan koreng yang tak kunjung hilang
Sekalipun sekarang kau kembali atas salahmu jiwa
Tapi maafkan
Telah kuterbangkan hati dengan sayap rapuhnya
Terlalu luka
Terlalu sakit
Terlalu pedih
Telah mati
Keinginan untuk mengulangnya kembali
Telah Mati
Angan menuju cita itu
Telah Mati
dulu y seperti biasa sering melihatnya mengoreskannya dikertas. tp sekarang hanya tergores dihati dengan jejaknya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar